Oleh Oleh Oleh OlehCatatan pilihan untuk pembaca Indonesia.
food

Oleh-Oleh Legendaris dari Tanjungpandan yang Tak Pernah Padam

Cerita di balik oleh-oleh legendaris Tanjungpandan: kue gandasuli dan lempah kuning. Pengalaman langsung dari penulis yang sudah 4 tahun berbagi resep.

1 May 2026 · 2 menit baca · oleh Diah Iskandar Mulyadi
Oleh-Oleh Legendaris dari Tanjungpandan yang Tak Pernah Padam

Pulang ke Tanjungpandan selalu jadi momen spesial buat saya. Salah satu ritual yang nggak pernah absen adalah mampir ke pasar pagi di Kampung Parit. Aroma gula merah dan santan langsung menyergap, bercampur suara para penjual yang ramai menawarkan dagangan. Di sinilah saya menemukan kembali oleh-oleh legendaris yang setia menemani sejak kecil — kue gandasuli dan lempah kuning kering. Dua benda ini bukan sekadar camilan; mereka adalah cerita tentang kampung halaman yang terus hidup.

Kue Gandasuli dan Lempah Kuning: Dua Wajah Oleh-Oleh Belitung

Kue gandasuli mungkin nggak seterkenal martabak atau kue lapis di kota besar, tapi di Tanjungpandan ia adalah primadona. Namanya diambil dari bunga gandasuli yang harum, meski resepnya justru berbahan dasar tepung beras, santan, dan gula merah. Adonan ini dituang tipis-tipis ke cetakan bulat, lalu dikukus hingga matang. Hasilnya? Kue kenyal dengan rasa manis gurih yang lumer di mulut. Saking lezatnya, saya pernah bawa lima bungkus sekaligus untuk rekan kantor di luar kota — dan habis dalam dua hari.

Lempah kuning kering adalah versi portable dari hidangan ikonik Belitung: lempah kuning (sayur kuah kuning berbumbu rempah). Biasanya lempah kuning disajikan segar dengan ikan tongkol atau teri. Tapi, para ibu di Tanjungpandan mengeringkannya jadi kerupuk renyah yang bisa tahan berminggu-minggu. Cara makannya cukup direndam sebntar di air panas, lalu ditumis kembali. Atau dimakan langsung sebagai camilan gurih. Sungguh, ini salah satu inovasi kuliner paling cerdas yang pernah saya temui.

Proses pembuatan kedua oleh-oleh ini masih diwariskan turun-temurun. Ibu saya sendiri pernah cerita bahwa neneknya dulu jual kue gandasuli di pasar dengan cara dipikul. “Kue ini harus dijual pagi benar, karena kalau kena panas terlalu lama, teksturnya jadi keras,” katanya sambil tersenyum. Saya pun mulai belajar bikinnya sejak pandemi, biar bisa kirim rasa kampung halaman ke teman-teman yang merantau. Ternyata, resepnya sederhana — cuma butuh kesabaran ngaduk adonan sampe nggak bergerindil.

Kalau penasaran sama asal-usul lempah kuning, bisa baca lebih lanjut di Wikipedia tentang Belitung yang kaya akan tradisi kuliner. Saran saya, jangan lupa kunjungi juga artikel kami tentang cara bikin kue gandasuli anti gagal buat pemula.

Bawa oleh-oleh legendaris dari Tanjungpandan bukan sekadar soal rasa. Ia bawa kenangan, kehangatan keluarga, dan semangat para ibu yang setia jaga resep turun-temurun. Setiap gigitan kue gandasuli atau renyahnya lempah kuning kering, saya kayak pulang lagi ke dapur Ibu — walaupun hari itu saya lagi di perantauan. Jadi, kapan Anda mampir ke Tanjungpandan buat cicipi sendiri?

Tag: #oleh-oleh #kuliner belitung #kue tradisional #tanjungpandan